DiskusHI Seri Organisasi Internasional: Kupas Habis UN Bodies

Jakarta – Berkontribusi di organisasi internasional merupakan salah satu karier impian lulusan ilmu hubungan internasional. Organisasi yang kerap menjadi tujuan adalah badan-badan di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB/UN) yang berfokus pada beragam misi. DiskusHI seri kelima yang digelar secara daring melalui zoom, Sabtu (24/10), mengupas tuntas mengenai peluang karier di badan-badan PBB dengan alumni HI UGM yang berkiprah di organisasi tersebut.

Ketua Umum KAHIGAMA, Nia Sarinastiti, membuka sesi diskusHI dengan berbagi pengalamannya bekerja di World Bank selama sepuluh tahun.

Ika Rini Indrawati, alumni HI UGM 2004 yang berkarier di United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), menyatakan tertarik dengan badan PBB karena ingin berkontribusi di sektor publik nonprofit. “Utamanya di organisasi internasional dengan mandat pemenuhan hak dasar atau misi humanitarian. Kini, UNHCR di Indonesia berfokus menangani pengungsi urban dan tengah membantu sekitar 390 pengungsi Rohingya di Loksheumawe, Aceh,” terangnya.

Ika menempati posisi di Programme section menangani planning, budgeting, reporting, dan implementation. Dalam proses menuju kariernya sekarang, ia mengambil gelar master Humanitarian Action. Selanjutnya, ia bergabung sebagai relawan PBB untuk proyek State of World Volunteerism Report di Bonn dan bekerja di Resident Coordinator’s Office PBB.

Terdapat dua tipe karier di badan PBB, yaitu internasional dan nasional. Ika sendiri menempuh jalur karier nasional melalui rekrutmen langsung yang ditujukan spesifik untuk badan PBB tertentu. “Terdapat beberapa channel untuk apply, misalnya Young Professional Program (YPP) yang difasilitasi oleh HQ PBB dan bisa ditempatkan di negara manapun, lalu Junior Professional Officer (JPO) yang disponsori oleh negara anggota, rekrutmen langsung, dan konversi dari staf nasional ke internasional. Selain itu, ada juga International UN Volunteer di berbagai badan PBB,” jelasnya.

Menurutnya, sejumlah faktor mempengaruhi penilaian terhadap pelamar kerja. “Latar belakang pendidikan di HI, atau pengalaman kerja yang sesuai dengan fungsinya sangat dibutuhkan untuk berkarier di badan PBB. Selain itu, kemampuan Bahasa Inggris sangat penting karena aktivitas dan laporan harian utamanya dilakukan dalam Bahasa Inggris,” ujar Ika.

Utami Sandyarani, alumni HI UGM 2010 yang sebelumnya berkarier di United Nations Development Programme (UNDP) turut berbagi pengalaman. Kini ia tengah menempuh Master’s Programme in Peace and Conflict Studies di Uppsala University, Swedia. Ia tertarik pada isu resolusi konflik dan perdamaian sejak awal kuliah, yang berlanjut pada masa kuliah kerja nyata (KKN) dan dituangkan dalam skripsi. Kariernya diawali dengan bergabung di NGO internasional yang berfokus pada transformasi konflik dan pencegahan kekerasan berbasis ekstremisme.

Menurut Utami, penting bagi pencari kerja untuk memahami mandat badan PBB yang dituju dan mengasah keterampilan yang dibutuhkan. Sejumlah kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan ialah manajemen proyek dengan prosedur, komunikasi konstruktif dan proaktif, berpikir analitis, menulis, dan kesabaran. “Dalam kerja social change, hasilnya tidak selalu dapat dilihat langsung. Mungkin lima atau sepuluh tahun lagi. Kita juga harus belajar untuk tidak reaktif dan menerima perbedaan, mengingat badan PBB multikultur, insklusif, dan non-diskriminatif. Perlu investasi untuk diri sendiri dalam bentuk pengalaman, jaringan, maupun pelatihan,” ujarnya.

Baik Ika maupun Utami merekomendasikan sejumlah situs untuk mencari peluang berkarier di badan PBB, seperti situs resmi masing-masing badan PBB yang dituju, reliefweb.int/jobs, unjobs.org, devjobsindo.org, dan kalibrr.com.

Acara ditutup sambutan singkat dari Agus Saptono, Konsul Jenderal RI di Mumbai. Ia mengapresiasi KAHIGAMA atas inisiatif menggelar DiskusHI untuk berbagi peluang karier di berbagai sektor. Ia turut berbagi pengalaman dalam menangani isu World Trade Organization (WTO) selama 17 tahun, serta sempat ditempatkan di PTRI Jenewa dan KBRI Roma menangani dua organisasi, yaitu Food and Agriculture Organization (FAO) dan World Food Programme (WFP).

Menurutnya, pencari kerja harus terbuka terhadap peluang, termasuk magang, untuk memperluas jaringan. “Saat magang, akan ada kesempatan yang terbuka untuk mendekatkan diri ke organisasi internasional, sehingga membuka peluang untuk mendapat pengembangan kapasitas sampai berkarier di sana. Kesempatan berkarier di organisasi internasional cukup besar, namun kita harus berkompetisi dengan negara lain karena masing-masing negara memiliki kuota. Umumnya, saingan terberat ialah India, Filipina, Tiongkok, dan lainnya.” Tutup Agus.

Sesi DiskusHI seri kelima dimoderatori oleh Jhendra Samodra, alumni HI UGM 2008 yang kini berkarier di Kementerian Luar Negeri RI menangani multilateral. Seri-seri berikutnya akan dihadirkan oleh KAHIGAMA dengan tema bidang karier berbeda. KAHIGAMA

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *