DiskusHI Seri Organisasi Internasional: Peluang Karier di ASEAN

Jakarta – Terdapat banyak miskonsepsi tentang peluang karier di organisasi internasional, termasuk ASEAN atau Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara. Miskonsepsi dan mitos ini salah satunya ialah ASEAN dekat dengan kita, tapi seolah jauh dan sulit diakses. Akan tetapi, di balik miskonsepsi ini, ternyata banyak kompleksitas di dalam organisasi ASEAN yang patut dipelajari, mengingat Indonesia juga merupakan bagian integral dari perhimpunan ini.

Peluang karier di organisasi internasional dibahas untuk pertama kalinya dalam DiskusHI seri ketiga yang diselenggarakan secara daring melalui aplikasi zoom, Sabtu (1/8). DiskusHI adalah media untuk berbagi mengenai karier lintas sektor dan merupakan bagian dari program Keluarga Alumni Hubungan Internasional (KAHIGAMA).

Ketua Umum KAHIGAMA, Nia Sarinastiti, membuka sesi diskusHI dengan sedikit berbagi pengalaman. Sebelumnya ia sempat bekerja di World Bank selama sepuluh tahun dan pada 2017 pernah menjadi pembicara diskusi mengenai Masyarakat Ekonomi ASEAN. “Semoga DiskusHI hari ini bisa bermanfaat untuk memahami ASEAN lebih dekat,” ungkapnya optimis.

Senior Officer (Defence) ASEAN Secretariat, Andereas S. Nugraha, menyampaikan bahwa skill yang penting dimiliki untuk berkarier di ASEAN adalah untuk mengikuti instruksi. Menurutnya, perubahan besar di organisasi internasional tidak mudah dicapai, mengingat organisasinya sangat besar dan layer-nya banyak.

“Ini adalah proses yang panjang, investasi jarak jauh. Kita harus sabar dan ikhlas berkontribusi di organisasi internasional mengingat progres kariernya step by step. Seleksi untuk bekerja di organisasi internasional berbasis meritokrasi dan representasi, misalnya jumlah warga negara, gender balance, maupun aksesibilitas,” ujar alumni HI UGM angkatan 2006 ini.

Andereas menyampaikan bahwa pelamar kerja di ASEAN dari Indonesia jumlahnya paling banyak dibandingkan dengan negara lainnya. Sehingga, jika pelamar belum dipanggil untuk tahapan seleksi selanjutnya, tidak berarti karena kualifikasi yang belum sesuai. “Ada inflasi di Jakarta. Kecenderungannya, (applicants) over qualified yang artinya mereka apply untuk sesuatu yang harusnya sudah di atas lagi,” ujarnya sembari menunjukkan beberapa profil alumni HI UGM yang kini tengah berkarier di ASEAN.

Senior Officer, ASEAN Regional Mine Action Center (ARMAC), Dwi Prameswari, menjelaskan mengenai fokus organisasinya yang berdiri pada 2012 ini. ARMAC berfokus pada mine action yang berhubungan erat dengan pembangunan, utamanya sebagai aksi humaniter yang terintegrasi untuk menanggulangi dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan dari penggunaan ranjau darat yang digunakan semasa perang di masa lampau.

“Kegiatan kami berkaitan dengan human security dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDG. Kegiatan ARMAC di antaranya ialah meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai ranjau darat, memfasilitasi korban, dan knowledge sharing dengan mitra-mitra ARMAC lainnya,” ujar alumni HI UGM 2009 yang akrab disapa Uwie ini.

Sesi DiskusHI seri ketiga dimoderatori oleh Ario Bimo Utomo, alumni HI UGM 2011 yang kini merupakan Dosen HI UPN V Jawa Timur. Seri-seri berikutnya akan dihadirkan oleh KAHIGAMA dengan tema bidang karier berbeda.

KAHIGAMA

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *