Diskusi Publik KAHIGAMA: Optimalisasi Peran Pemuda dalam Membina Perdamaian

Keluarga Alumni Hubungan Internasional UGM (KAHIGAMA) menyelenggarakan Kelompok Diskusi Terfokus daring bertajuk “Youth and Peacebuilding Movement in Indonesia, a Luta Continua!” (2/10/2020). Acara diselenggarakan dalam memperingati Hari Nirkekerasan Internasional bertepatan pada hari yang sama, juga sebagai bagian dari peringatan Hari Perdamaian Internasional pada September lalu, sekaligus mengisi bulan pemuda pada Oktober.

Acara dibuka oleh Velix Wanggai, Wakil Ketua Umum II KAHIGAMA, yang memaparkan kebanggaannya atas keragaman Indonesia. Dalam sambutan pembukaannya dikatakan bahwa “masyarakat pluralistik adalah kekuatan, akan tetapi perlu dikelola dengan baik untuk mencegah terjadinya konflik. Oleh karena itu, diperlukan peran berbagai pihak termasuk organisasi seperti KAHIGAMA untuk mempromosikan nilai-nilai perdamaian dan menjadi katalisator dalam menanamkan toleransi”.

Diskusi tentang peran pemuda dalam gerakan bina damai di Indonesia ini adalah agenda dari Departemen Kajian, Advokasi dan Rekomendasi. Acara dipandu oleh Hardya Pranadipa yang menampilkan tiga orang pembicara dengan latar belakang yang berbeda, masing-masing akademisi DIHI-FISIPOL UGM, wakil dari Kemenpora dan praktisi bina perdamaian dari INGO. Kegiatan diskusi daring ini menarik minat banyak peserta yang terlihat dari animo kehadiran dan lontaran-lontaran peserta yang berlangsung dialogis.

Mengawali diskusi, Kepala Bidang Organisasi Kemahasiswaan, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI, DR Jaswadi, memaparkan sejumlah kebijakan Kemenpora dalam pembangunan pemuda, termasuk dalam menanggulangi COVID-19, membangun perdamaian, penguatan demokrasi dalam pilkada, dan penanggulangan konflik.

Pemerintah Indonesia, melalui Kemenpora, saat ini bekerja sama dengan beberapa Kementerian di tingkat nasional dan daerah untuk membuka program yang mendorong partisipasi pemuda dalam meningkatkan pembangunan serta penyelesaian permasalahan di daerah. Oleh karena itu, penting bagi pemuda di kota dan desa untuk senantiasa menjangkau dinas pemerintah di daerahnya guna mencari informasi mengenai peluang dan program kerjasama yang melibatkan pemuda dalam bidang-bidang strategis. Ia juga menambahkan, “Dalam konteks kekinian, Kemenpora pada moment Hari Sumpah Pemuda yang ke-92 pada tahun ini mengambil tema ‘Bersatu dan Bangkit’ untuk bersatu dalam keberagaman dan bangkit di tengah pandemi COVID-19“.

Diah Kusumaningrum, dosen Ilmu Hubungan InternasionaI Fisipol UGM, melihat adanya gejala kesenjangan dan kondisi negasi antar generasi. Menurutnya, ada tiga prinsip utama dalam menciptakan sinergi lintas generasi dan agar peran pemuda tidak tereduksi, yaitu (1) Generasi tua tidak dapat beranggapan mereka lebih tahu, (2) Generasi tua tidak dapat beranggapan mereka lebih kuat, dan (3) Generasi muda tidak memiliki hutang dan beban apapun di masa depan. Kesemua ini mengacu sebuah kontradiksi dari sebuah adagium bahwa ‘Generasi muda dianggap mempunyai tanggung jawab yang berat karena akan melanjutkan pembangunan negara selanjutnya’, namun seringkali dianggap tidak kapabel, mereka hanya diposisikan untuk melakukan kegiatan yang terkesan bersenang-senang dengan diberikan peran minimal seperti ‘duta’ ketimbang masuk dalam alur proses pembuatan kebijakan.

Padahal, sinergi lintas generasi dapat tercapai melalui semangat dialog dan belajar satu sama lain dengan posisi sama rata, karena tidak ada generasi yang lebih tahu atau lebih kuat. Pemuda perlu diberikan akses dan kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam bidang yang sama pentingnya dengan generasi sebelumnya. Pemuda juga harus mulai berserikat supaya tidak difragmentasi akibat patronizing yang dilakukan oleh generasi sebelumnya.

Ia menambahkan, “Seiring berkembangnya studi demokrasi dan perdamaian serta gerakan sosial, muncul juga yang sekarang kita kenal sebagai Youth Studies. Di FISIPOL UGM sekarang ada pusat kajian bernama YouSure yang khusus melihat aspek kepemudaan,”

Praktisi perdamaian Nisrina Nadhifah Rahman yang juga adalah Project Officer di HIVOS Southeast Asia, menyampaikan bahwa satu dari empat orang muda adalah korban kekerasan dan konflik bersenjata. Terkait hal tersebut, ia merujuk pada Resolusi Dewan Keamanan PBB tentang Youth, Peace and Security yang ditetapkan pada 2015. “Segala sesuatu mengenai pembangunan itu kontekstual dan tidak bisa digeneralisir, begitu juga mengenai isu kepemudaan dan bina damai. Pada kenyataannya, pemuda sering mengalami injustice dan marjinalisasi. Dalam upaya bina damai, pemuda perlu ditempatkan pada garis depan dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, bukan keterlibatan semata,” demikian imbuhnya.

Acara ini berlangsung dialogis dengan animo pertanyaan dari peserta. Peserta memberikan apresiasi kepada KAHIGAMA dan berharap dapat menyelenggarakan event yang sama kedepannya.  Acara ditutup oleh sapaan singkat dari Ketua Umum KAHIGAMA, Nia Sarinastiti, bersama-sama dengan Velix Wanggai.

Diskusi ini menyimpulkan bahwa diperlukan optimalisasi peran pemuda dalam gerakan bina damai dengan memberikan kepercayaan, akses, berserikat, kesempatan untuk mengurangi kesenjangan antar generasi, dan peran strategis melalui peningkatan keterlibatan dalam pengambilan keputusan. Bagi pemuda, diperlukan eksplorasi mendalam agar turut ambil bagian untuk memberikan solusi atas isu-isu di tengah masyarakat. Hal yang terpenting adalah untuk melihat ke depan dan memberikan ruang bagi pemuda untuk terus berkontribusi dalam menciptakan perdamaian di Indonesia.

***

Untuk keterangan lebih lanjut hubungi:

Hardya Pranadipa: +6281804321307

Vero: +62821-1068-4180

Muthe: +62856-93366-309

mediakahigama@gmail.com

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *